Sabtu, 04 April 2015


Direktur INSISTS: “Ini Radikal Versi BNPT”

JAKARTA (SALAMONLINE): Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) Adnin Armas menyesalkan pemblokiran yang dilakukan terhadap sejumlah media Islam online dengan dalih situs-situs dakwah dan berita Islam itu mengajarkan dan menyebarkan paham radikal.

“Apa yang dimaksud dengan radikal di sini?” tanya Pemred Majalah Gontor ini dalam acara Tabligh Akbar ‘Jangan Berangus Media Dakwah Kami’ di Masjid Al Azhar Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (3/4) malam.

Sejauh ini kriteria website radikal menurut tafsir Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) saat pertemuan di Kemkominfo, kata Adnin, adalah: Pertama, ingin melakukan perubahan dengan cepat, menggunakan kekerasan, dan mengatasnamakan agama.

“Apa iya, Hidayatullah, AQLIslamiccenter.com, GemaIslam.com, dan lainnya itu mengajak orang untuk ngebom, ayo bunuh orang, setahu saya tak pernah,” ujar cendekiawan muda Islam ini.

Kedua, Takfiri, mengkafirkan orang lain. “Web-web ini diblokir katanya juga karena mengkafirkan orang lain. Ini apakah kalau kita shalat, surah al-kafirun pun apa gak boleh dibaca lagi,” tanyanya.

Menurut Adnin, kita merdeka dulu juga karena ketika penjajah Belanda datang, mereka, para pejuang kita mengatakan, “Ini orang kafir mau menjajah kita. Semangat perjuangan itu muncul. Kemerdekaan ini diraih salah satunya karena semangat itu. Sekarang ini malah dianggap sebagai radikal, ini melukai umat Islam.”

Adnin mengatakan, jika kriteria ini yang digunakan BNPT, itu bahaya, karena mendangkalkan akidah umat Islam, melemahkan kaum Muslimin. “Tadi Pak Irjen Pol (Purn) Anton Tabah menyebutkan banyak sekali masalah-masalah sosial yang menimpa umat Islam, umat Islam ini sudah lemah, kemudian keimannnya pun dilemahkan lagi, ini bahaya,” Adnin mengingatkan.

Ia melanjutkan, iman kepada Allah adalah sumber kekuatan kita. Apalagi yang dibanggakan umat kalau bukan keimanan, kebenaran, keyakinan terhadap Islam. “Politik sudah berpecah belah, ekonomi juga kalah, sosial dan kebudayaan kita krisis, sudah begitu identitas ke-Islaman itu juga mau dilepaskan,” paparnya.

Ia menjelaskan, yang namanya agama ada dogma, ada keyakinan. Bukan hanya Islam, agama lain juga begitu, di luar keyakinan agamanya salah, makanya seseorang menganut agama yang diyakininya itu.

“Harusnya (proses pemblokiran itu, red) melibatkan para ulama, ormas Islam, jangan sampai seperti dikatakan pak Mustofa Nahra tadi, (BNPT) menjadi penafsir agama. Kalau menjadi penafsir agama, itu terkait dengan ideologi keagamaan, kalau seperti itu, jadi menyimpang,” gugatnya.

“Kalau definisi radikal seperti ini, maka paranoid, Islamofobia yang menjadi ideologi, itu rawan. Umat Islam terbesar di dunia, menghadapi masalah seperti ini,” sesalnya.

Ketiga, mendukung, menyebarkan dan mengajak bergabung dengan ISIS. “Setahu saya selama berhari-hari mendampingi teman-teman media Islam, mereka justru mengritik ISIS, tak ada yang mendukung. Apalagi gemaislam.com, bukan hanya di webnya, seminar pun digelar untuk mengkritisi dan mengritik ISIS, mewarning bahaya ISIS. Nah, yang mengritik ISIS aja diblokir,” ungkapnya.

Keempat, memaknai Jihad secara terbatas. Kosa kata ini ada di dalam Qur’an, hadits, dan di dalam praktik kehidupan umat Islam dari dulu sampai sekarang. Menurut Adnin, yang namanya jihad ada maknanya, meskipun bukan hanya bermakna perang, tapi bersungguh-sungguh. “Kemerdekaan Indonesia karena Jihadnya para pendahulu kita,” tegasnya.

“Andai negara ini kembali dijajah kekuatan asing, siap Jihad apa tidak?” tanya Adnin kepada hadirin, yang dijawab serentak, “Siaaap…!!!” kemudian Adnin buru-buru menimpali, “Itu disebut radikal oleh BNPT. Jadi kalau diserang oleh kekuatan asing, bagaimana? Diam aja, cukup berdoa…,” ujarnya, satir. (is/so)

Jumat, 03 April 2015

SERANGAN MUJAHIDIN SASAR DUA KAMP PELATIHAN MILITER PKK DI HASAKAH, 30 KUFFAR TEWAS

Dua kamp muaskar (pelatihan militer) PKK berhasil dihancurkan oleh Mujahidin Daulah Islamiyyah dalam operasi penyerangan terkoordinasi membebaskan kawasan sekitar Serekaniye atau Ra’sul Ayn, koresponden lapangan Azzam Media di wilayah al Barakah melaporkan pada Sabtu (23 Jumadil Ula).

Sebanyak lebih dari 40 personil musuh tewas terbunuh dalam pertempuran yang terjadi di Desa Safh tersebut. Mujahidin lantas membumi hanguskan area kamp militer PKK.

Selain menguasai kawasan itu, bala tentara Daulah Khilafah turut menaklukkan tiga buah kawasan pedesaan lainnya, diantaranya As Sukar, Ihyamar, dan Ummul Kaif tak jauh dari Distrik Tal Tamr.

Kemenangan yang digapai Mujahidin tersebut membawa mereka semakin dekat dengan Ra’sul Ayn, kota besar dan basis terpenting kedua bagi Partai Komunis PKK dan YPG setelah Kobani.

Sabtu, 31 Januari 2015

HINDUN BINTI AMR BIN HARAM YANG TABAH DITINGGAL KELUARGA


Hindun binti Amr bin Haram, adalah istri Amr bin Jamuh. Hatinya penuh dengan keimanan dan rasa cinta terhadap agama yang dipeluknya.
Karena itulah ia mengikhlaskan segala apa yang ia miliki sekalipun suami dan anak tercintanya ia korbankan demi memperjuangkan Al Islam. Suami Hindun seorang terkemuka dan terpandang di kalangan kaumnya.


Sekalipun suami Hindun seorang yang pincang, namun karena panggilan jihad dan dimotivasi istrinya, akhirnya ia terpanggil pula untuk membela agama Allah serta memerangi musuh Allah hingga ia mati syahid. Tidak hanya suaminya, anaknya juga yakni Khallad bin Amr bin Jamuh dan saudaranya yang bernama Abdullah bin Amr bin Haram, mati syahid pula dalam peperangan.

Ketegaran Hindun turut menghantarkan kepergian tiga orang yang dicintainya untuk menemui Kekasih dambaannya, Allah SWT. Lalu Hindun membawa mereka diatas unta menuju ke Madinah untuk dikuburkan di sana. Ketika Aisyah melhat Hindun, lalu ia bertanya, "Ya Hindun, semoga engkau memperoleh kebaikan. Apakah yang berada di belakangmu?' Jawab Hindun, "Rasulullah adalah orang yang shaleh, dan setiap musibah selain kehilangan beliau adalah kecil. Dan Allah telah mengangkat beberapa orang mukmin sebagai syuhada." Lalu Aisyah bertanya lagi, "Ya Hindun, akan engkau bawa kemana mereka itu?" Jawab Hindun, "Akan aku bawa ke Madinah dan hendak aku kuburkan di sana."

Lalu Ummu Khallad ini pun memacu untanya, agar lebih cepat menelusuri jalan. Tetapi unta yang ditumpanginya tidak mampu melaju cepat. Akhirnya Hindun memutar halauan, menuju ke arah medan peperangan. Sungguh keajaiban yang luar biasa ketika itu unta yang ditumpanginya bergerak serta berjalan sangat cepat, hingga akhirnya sampai di Uhud. Akhirnya di Uhud, Hindun bertemu dengan Rasulullah. Lalu Rasulullah mendekati jenazahnya.

Seraya bersabda, "Sungguh aku melihatmu (Amr bin Jamuh) berjalan di dalam syurga dengan kakimu ini dalam keadaan sehat." Lalu Rasulullah menyuruh para sahabatnya agar menguburkan mereka (Amr bin Jamuh, anaknya, dan saudaranya dalam satu liang kubur). Rasulullah berkata, "Ya Hindun, mereka akan bersahabat di dalam syurga. Amr bin Jamuh suamimu, Khallad puteramu, dan Abdullah saudaramu, semuanya akan menjadi penghuni syurga."

Mendengar keterangan Rasulullah, Hindun merasa bangga dan bahagia. Lalu berkata, "Ya Rasulullah. do'akanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka."

Lalu Rasulullah berkata : "Wahai Hindun, engkau memiliki kesabaran yang tinggi, keimanan yang luhur dan kepercayaan yang kuat kepada apa yang berada di sisi Allah, engkau tidak pernah berkeluh kesah dalam menempuh kehidupan ini. Sebaliknya engkau sangat mencintai apa yang berada di sisi Allah."

Kalau kita amati peristiwa yang telah dialami oleh Hindun, sungguh mengherankan. Seorang wanita yang kehilangan suami, anak, dan saudara kandungnya dalam sehari, namun hatinya tiada bergoncang dan air matanya tiada mengalir.

Itu semua karena keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya telah kokoh tertanam dalam hati, sehingga tidak ada lagi ruang dan relung hati untuk berduka cita. Semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Karena kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya telah menjadi tujuan hidupnya. Sehingga segala apapun yang ia miliki semua itu dikorbankannya demi tegaknya panji Islam. Beliau memiliki putera empat orang dan semuanya diikutsertakannya dalam perang.

Umayyah binti Qais Dimandikan dengan Air Garam

Nabi Muhammad memberikan penghargaan khusus bagi Umayyah, yaitu sebuah kalung yang disematkan di lehernya.
Ini sebagai bentuk penghormatan dan jasa keberanian, berikut kegigihannya berjihad di jalan-Nya.
Kalung pemberian Rasulullah itu ia kenakan sepajang hayatnya hingga ajal menjemput. Benda tersebut kelak akan menjadi saksi atas perjuangannya membela Islam selama di dunia. “Demi Allah, saya tidak akan melepaskan kalung ini untuk selamanya.”
Sepak terjang pejuang perempuan suku Ghiffar, tak terkecuali di Perang Khaibar, patut dicontoh. Ketika turun ke medan perang, usia mereka masih muda. Namun, kontribusi yang diberikan terhadap Agama Allah, sungguh luar biasa.
Air garamSaat mengikuti peperangan, Umayyah belum memasuki usia baligh. Namun, semangat dan keberaniannya tidak bisa dibendung. Dalam perjalanannya menuju medan perang, ia bertemu dengan Rasulullah.
Nabi memerintahkannya untuk ikut bersama di kudanya. Sampai di tempat tujuan, ketika Nabi turun untuk mengikat kuda, terlihat tetesan darah di atas pelana.
Rasulullah kaget, lalu menanyakan kepada Umayyah, “Jangan-jangan kamu sedang haid.”
Umayyah dengan malu mengangguk. “Itulah haid pertama saya di atas kuda Rasulullah. Saya benar-benar malu saat itu,” kata Umayyah.
Nabi memberi nasihat agar Umayyah segera membersihkan badannya. Lalu mengambil air dalam ember yang telah ditaburi garam untuk membersihkan pelana yang terkena darah.
Nasihat Rasulullah itu dilaksanakan hingga setiap Umayyah mendapat haid. Ia membersihkan darah haid dengan air garam. Bahkan ketika wafat, Umayyah berwasiat agar jasadnya dimandikan dengan air garam.
KHAULAH BINTI TSA'LABAH RADHIYALLAHU ANHUMA (WANITA YANG DI DENGAR KELUHANNYA DARI LANGIT KETUJUH)


Wanita mulia ini bernama Khaulah bintu Malik bin Tsa'labah bin Ashram bin Fahr bin Tsa'labah bin Ghannam bin 'Auf bin 'Amr al Anshariyah al Khazrajiyah. Ia adalah isteri dari Aus bin ash Shamit, seorang wanita yang mengajukan gugatan (kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hukum) zhihar yang dilakukan oleh suaminya terhadapnya. Maka Allah menurunkan ayat-ayat pertama dalam surat al Mujadilah berkaitan dengan permasalahan wanita ini.

‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata : Segala puji bagi Allah Yang pendengaranNya meliputi segenap suara. Sungguh telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan aku berada di tepi rumah. Wanita itu mengeluhkan (sikap) suaminya, dan (sebagian) ucapannya yang bisa aku dengar. Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat

قَدْ سَمِعَ الهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى الهِl وَالهُs يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ الهَl سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [ Al Mujadalah / 58:1] [1].

Khaulah mengisahkan,"Demi Allah, dalam (permasalahan)ku dan Aus bin ash Shamit, Allah Azza wa Jalla telah menurunkan awal ayat surat al Mujadilah. Kala itu, statusku adalah isterinya. Ia seorang laki-laki yang telah renta, perangainya telah berubah menjadi kasar dan suka membentak. Suatu hari, ia menemuiku. Kala itu aku membantahnya dengan sesuatu. Ia pun marah, lantas berkata,"Engkau ibarat punggung ibuku bagiku,"[2] lalu ia keluar dan duduk-duduk di tempat berkumpul kaumnya.

Beberapa saat kemudian ia masuk menemuiku, dan saat itu ia menginginkan diriku. Kukatakan kepadanya,"Sekali-kali tidak. Demi Dzat Yang jiwa Khaulah berada dalam genggamanNya. Janganlah engkau mendekatiku. Engkau telah mengucapkan apa yang telah kau ucapkan, sampai Allah memutuskan hukumNya dalam permasalahan kita," lantas ia melompat hendak menangkapku. Aku pun menghindar darinya dan berusaha melawan dengan kekuatan seorang wanita menghadapi lelaki tua lagi lemah. Aku berhasil mendorong tubuhnya dariku. Kemudian aku keluar menemui tetangga wanitaku dan meminjam bajunya. Aku pergi menemui Rasulullah, lalu duduk di hadapannya. Aku ceritakan apa yang aku hadapai dengan suamiku, mengeluh kepada beliau tentang perilaku kasar suamiku.[3]

Rasulullah berkata,"Wahai Khuwailah, anak pamanmu itu adalah seorang laki-laki yang telah tua, maka bertaqwalah engkau kepada Allah terhadap suamimu."

Aku berkata,"Demi Allah, aku tidak beranjak dari sisi beliau sampai turun al Qur`an. Ketika itu Rasulullah diliputi sesuatu dan diwahyukan kepada beliau. Lalu beliau berkata kepadaku,"Wahai, Khuwailah. Allah telah menurunkan firmanNya tentang permasalahanmu dan suamimu." Beliau membaca ayat … -yaitu surat al Mujadalah / 58 ayat 1-4,.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku,"Perintahkan kepadanya, agar ia membebaskan seorang budak".

Aku berkata,"Demi Allah, wahai Rasulullah. Dia tidak memilki seorang budak".

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,"Kalau begitu, hendaklah ia berpuasa selama dua bulan berturut-turut."

Aku berkata,"Demi Allah, wahai Rasulullah. Dia adalah seorang lelaki tua yang tidak sanggup lagi berpuasa."

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali berkata,"Jika demikian, hendaklah ia memberi makan enam puluh orang miskin dengan satu wasaq kurma."

Aku berkata,"Demi Allah, wahai Rasulullah. Dia tidak memiliki kurma sebanyak itu."

Akhirnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,"Maka kami akan membantunya dengan sekeranjang kurma."

Aku berkata,"Aku juga, wahai Rasulullah. Aku akan membantunya dengan sekeranjang lagi."

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,"Perbuatanmu benar dan bagus. Pergilah dan bersedekahlah untuk suamimu. Dan berwasiatlah dengan anak pamanmu dengan baik," maka aku pun melakukan perintah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .[4]

Para sahabat juga mengakui keutamaan dan keberanian wanita mulia ini dalam kebenaran, sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat diam mendengarkan perkataannya, sebagai penghormatan terhadap wanita yang telah didengar pengaduannya oleh Allah.

Sebagai contoh, suatu hari Umar bin al Khaththab keluar bersama orang-orang. Lalu ia melewati seorang wanita tua. Wanita itu meminta ‘Umar untuk berhenti. ‘Umar pun berhenti, dan mereka berdua bercakap-cakap.

Seseorang berkata kepada Umar,"Wahai, Amirul Mu’minin, engkau menahan (perjalanan) orang-orang karena wanita tua ini."

Mendengar seruan itu, ‘Umar menjawabnya : "Celakalah engkau! Tidakkah engkau tahu, siapa wanita ini? Dialah wanita yang telah didengar pengaduannya oleh Allah dari langit ke tujuh. Wanita ini adalah Khaulah bintu Tsa'labah yang Allah turunkan ayat tentang permasalahannya : ( قَدْ سَمِعَ اللَّه... ). Demi Allah, seandainya ia menahanku sampai malam, aku tidak akan meninggalkannya kecuali untuk shalat, kemudian aku menemuinya lagi".

Juga diriwayatkan dari Qatadah, ia berkata : ‘Umar bin al Khaththab keluar dari masjid dan al Jarud al 'Abdi sedang bersamanya. Tiba-tiba ada seorang wanita di tepi jalan. ‘Umar mengucapkan salam kepadanya, dan wanita itu menjawabnya.

Wanita itu berkata,"Wahai ‘Umar, dulu aku menemuimu saat engkau masih bernama Umair di pasar 'Ukazh. Engkau menakut-nakuti anak-anak dengan tongkatmu. Hingga hari berlalu dan namamu berganti ‘Umar. Dan masa terus berlalu hingga engkau menjadi seorang Amirul Mu'minin. Maka bertaqwalah kepada Allah terhadap rakyatmu. Dan ketahuilah, barangsiapa yang takut ancaman Allah, dia akan merasakan bahwa siksa Allah itu amat dekat. Dan barangsiapa yang takut terhadap kematian, maka kematian itu pasti tidak akan luput darinya".

Mendengar pembicaraan wanitu itu, al Jarud kemudian menimpalinya : “Sungguh engkau telah memperbanyak ucapan terhadap Amirul Mu'minin, wahai wanita".

Tetapi ‘Umar justru berkata,"Biarkanlah ia! Tidakkah engkau mengenalinya? Wanita ini adalah Khaulah bintu Hakim, isteri Aus bin ash Shamit yang telah Allah dengar ucapannya dari atas langit yang ke tujuh. Maka ‘Umar sangat lebih layak untuk mendengar perkataannya."[5]

Semoga Allah senantiasa melimpahkan keridhaanNya kepada Khaulah bintu Tsa'labah. (Hanin Ummu Abdillah)

(Sumber : ar Rijal wan-Nisaa` Haula ar Rasul, halaman 352-356, karya 'Athif Shabir Syahin, Darul-Ghadul-Jadid, Mesir, Cet. I, Tahun 1424 H/2003 M)
WANITA TELADAN DI MASA RASULULLAH
1. A'isyah binti Abu Bakar Menjadi Istri di Dunia dan Akhirat
2. Al-Khansa' binti Amr Ibu Para Syuhada
3. Amah binti Khalid Terlahir di Negeri Rantau
4. Arwa' binti Abdul Muththalib Membela Rasulullah dengan Lisannya shallallahu ‘alaihi wa sallam
5. Asma' binti Umais Istri Si Burung Surga
6. Asma' binti Yazid bin Sakan al-Anshariyah Orator Para Wanita
7. Asma' binti Abu Bakar Yang Memiliki Dua Ikat Pinggang
8. Atikah binti Zaid Janda Para Sahabat
9. Azdah binti Harits Ikut Perang dan Menang
10. Barirah Budak yang Ingin Bebas
11. Dhuba'ah binti Zubair Istri Pelopor Barisan Berkuda
12. Durrah binti Abu Lahab Yang Bebas dari Dosa Ayahnya
13. Fari'ah binti Abi Shalt Saudaranya Seorang Penyair
14. Fariah binti Abu Sufyan Ipar dan Istri Ipar Rasulullah
15. Fathimah binti Asad Pengganti Khadijah dan Abu Thalib
16. Fathimah binti Muhammad Seorang Putri yang Sederhana
17. Fathimah binti Qais Istri Usamah bin Zaid
18. Fathimah binti Utbah Islam Mengubah Segalanya
19. Fathimah binti KhathTHab Mengislamkan Saudaranya
20. Fathimah binti Walid Memahami Arti Sebuah Persaudaraan
21. Fathimah binti Yaman Putri Sahabat dan Saudara Para Sahabat
22. Furai‘ah binti Malik Di Pelataran Orang-Orang Beruntung
23. Hafshah binti Umar bin Khaththab Dibela Jibril karena Tekun Beribadah
24. Halimah as-Sa‘diyah Ibu Susu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
25. Hamnah binti Jahsy al-Asadiyah Istri Duta Pertama Islam
26. Hamnah binti Sufyan Ibu Sa‘ad bin Abi Waqqash
27. Hawa binti Yazid Dihormati Suaminya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
28. Hindun binti Amr bin Haram Yang Tabah Ditinggal Keluarga
29. Hindun binti Utbah Pemakan Jantung yang Masuk Islam
30. Juwairiyah binti al-Harits Putri Musuh Islam yang Memiliki Berkah
31. Kabsyah binti Rafi‘ bin Abid Mengantar Putranya Sampai ke Liang Kubur
32. Khadijah binti Khuwailid Istri yang Paling Dicintai
33. Khansa' binti KhadzDZam Yang Bebas Memilih Suami
34. Khaulah binti Malik Perkataannya Didengar Allah dari Langit Ketujuh
35. Khaulah binti Hakim Suaminya Muhajirin Pertama Wafat di Madinah
36. Laila binti Abi Hatsmah Berjanji kepada Anaknya
37. Laila binti Khathim Ditolak oleh Nabi
38. Lubabah binti Harits, UmmuL Fadhl Ibu Abdullah bin Abbas
39. Maimunah binti Harits Ummul Mukminin yang Sering Bersilaturrahim
40. Mariyah al-Qibthiyah Ibu dari Putra Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
41. Nailah binti Farafishah Istri Utsman bin Affan
42. Nusaibah binti Ka‘ab Peserta Bai‘atul Aqabah Kedua
43. Qatilah binti Nadhr Penyair dari Abdu Dar
44. Raihanah binti syam‘un Tawanan dari Bani Quraizhah
45. Raithah binti Munabbih bin al-Hajjaj Belajar Islam dari Anaknya
46. Raithah binti Harits bin Jubailah Meninggal di Perjalanan
47. Ramlah binti Abi Sufyan Menikah di Negeri Rantau
48. Raqiqah binti Abu Shaifi Bermimpi tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
49. Rubayya‘ binti Mua‘wwidz Selalu Mendampingi Perjuangan Rasulullah
50. Rufaidah al-Anshariyah Teladan bagi para Perawat
51. Ruqayyah binti Muhammad Yang Hijrah Dua Kali
52. Safanah binti Hatim Fasih Bertutur dan Sopan Beretika
53. Sahlah binti Suhail Memilih Islam daripada Keluarga
54. Salafah binti Sa‘ad al-Anshariyah Pemegang Kunci Ka‘bah
55. Salmah Ummul Mundzir binti Qais Bibi yang Mulia
56. Saudah binti Zam‘ah Yang Sabar dan Ikhlas
57. Shafiyyah binti Abdil Muththalib Mujahidah Pertama Pembunuh Musyrik
58. Shafiyyah binti Huyay Tawanan yang Menjadi Istri
59. Shafiyyah binti Sya ibah Berumur Panjang
60. Sumayyah binti Khubath Syahidah Pertama dalam Islam
61. Syaima' binti Harits as-Sa‘diyah Terdampar di antara Tawanan Perang Hunain
62. Syifa' binti Abdullah Yang Cerdas dan Mulia
63. Umaimah binti Shubaih Didoakan Rasulullah
64. Umaimah binti Abdul Muththalib Bibi dan Mertua Rasulullah
65. Umainah binti Khalaf Peserta Hijrah ke Habasyah
66. Umamah binti Hamzah Putri Singa Allah
67. Umayyah binti Qais Dimandikan dengan Air Garam
68. Umayyah binti Raqiqah Datang untuk Berbaiat
69. Ummu Abdi binti Abdi Wud Ibu Si Penggembala Kambing
70. Ummu Aiman Barakah binti Tsa'labah Pengasuh yang Baik
71. Ummu al-Qamah Ridhanya Menyelamatkan Sang Anak dari Neraka
72. Ummu Anas (Ibu Imran bin Abi Anas) Yang Berani Bertanya
73. Ummu Dzar al-Ghifariyah Setia Mendampingi Suami
74. Ummu Habib binti Ash al-Qursyiyah Menyalakan Semangat Tentara Islam
75. Ummu Hakim binti Harits Istri Ikrimah bin Abu Jahal
76. Ummu Hamid Ingin Shalat Berjamaah Bersama Rasulullah
77. Ummu Hani', Fakhitah binti Abi Thalib Yang Menyayangi Anak-anaknya
78. Ummu Haram binti Milhan Memiliki Martabat yang Tinggi
79. Ummu Hisyam binti Haritsah Bertetangga dengan Rasulullah
80. Ummu Khair binti Shakhr Ibu Abu Bakar ash-Shiddiq
81. Ummu Kultsum binti Muhammad Menggantikan Posisi Kakaknya
82. Ummu Kultsum binti Suhail Turut ke Habasyah
83. Ummu Kultsum binti Uqbah Beriman Sebelum Keluarganya
84. Ummu Ma‘bad al-Khuzai‘ah Menjamu Rasulullah
85. Ummu Ri‘lah al-Qusyairiyah Wanita yang Sangat Diplomatis
86. Ummu Ruman binti Amir Ibu Mertua yang Mulia
87. Ummu Salamah (Ummul Mukminin) Mendampingi Rasulullah di Hudaibiyah
88. Ummu Sinan Pejuang Wanita Sejati
89. Ummu Sulaim binti Malhan Teladan Memilih Pendamping
90. Ummu Syuraih Ghaziyah binti Jabir al-Qurasyiah Seorang Da‘iyah
91. Ummu Waraqah binti Naufal Imam para Wanita di Zamannya
92. Ummu Ziyad Turut Berjuang di Jalan Allah
93. Ummul Hakam binti AbU Sufyan Yang Kembali ke Fitrahnya
94. Urwah binti Harits Fasih Bicaranya
95. Zainab Istri Abdullah bin Mas‘ud
96. Zainab binti Abi Salamah Yang Paling Faqih pada Masanya
97. Zainab binti Ali bin AbU Thalib Cucu Rasulullah yang Tabah
98. Zainab binti Jahsy Dinikahkan Allah dengan Rasul-Nya
99. Zainab binti Khuzaimah Ibu Orang-Orang Miskin
100.Zainab binti Rasulullah Mencintai Islam daripada Suami
101.Zunairah Ketabahan Menyembuhkan Butanya

Meteor Garden - Ni yao de ai (Instrumental)